Transfer Pricing melalui Intra Group Service

Transfer Pricing melalui Intra Group Service

Intra-Group Service Salah satu bentuk transaksi terkait transfer pricing yang umumnya dilakukan oleh perusahaan Multinational Corporation (MNC) ialah transaksi jasa antar grup usaha atau sering disebut dengan Intra-Group Service. Transaksi ini umumnya lazim dilakukan dalam proses binis guna memperoleh profit yang sebesar-besarnya bagi grup usaha tersebut. Salah satu bentuk Intra-Group Service yaitu melalui pemberian jasa manajemen, jasa teknik atau jasa
lainnya dari satu entitas (pemberi jasa) di negara dengan tarif pajak rendah, memberikan jasa kepada entitas lainnya di negara dengan tarif pajak yang tinggi. Melalui skema tersebut, maka MNC dapat mengakui service expense sebagai beban yang akan menjadi pengurang penghasilan bagi entitas di negara yang memiliki tarif tinggi. Sedangkan bagi entitas pemberi jasa akan menjadi tambahan penghasilan di negara dengan
tarif pajak rendah. Pada kondisi inilah, penghasilan kena pajak akan berpindah dari entitas di negara tarif
pajak tinggi ke entitas di negara tarif pajak yang rendah (profit shifting) melalui pemberian Intra-Group
Service.
Namun akibat dari skema intra-group service ini membuat beberapa source country, termasuk salah
satunya Indonesia merasa dirugikan sehingga perlu diatur secara jelas terkait transaksi yang dilakukan
oleh pihak afiliasi melalui skema pemberian Intra-Group Service. Di Indonesia aturan mengenai Intra-
Group Service ini diatur dalam PER – 22/PJ/2013 tentang Pedoman Pemeriksaan Terhadap Wajib Pajak
Yang Mempunyai Hubungan Istimewa.Pada lampiran PER – 22/PJ/2013 dijelaskan bahwa intra-group
service merupakan suatu aktivitas yang diberikan oleh suatu pihak dalam suatu grup usaha yang
memberikan manfaat bagi satu atau lebih anggota lain dalam grup usahanya.
Mekanisme Pengujian Kewajaran Pembayaran
Dalam melakukan pengujian kewajaran atas transaksi intra-group service pada entitas satu grup usaha
afiliasi terdapat dua hal yang harus diperhatikan yaitu :
a. Memastikan eksistensi jasa yang diberikan : yaitu memastikan bahwa suatu jasa dari pihak afiliasi
telah benar-benar dilakukan atau (intra-group service has been rendered);
Penyerahan jasa dianggap benar-benar telah dilakukan apabila pengguna jasa dapat
membuktikan melalui dokumentasi. Beberapa dokumentasi yang dapat dibuat yaitu adanya
kontrak pemberian jasa, adanya bukti pelaksanaan jasa yang telah dilakukan dengan cara
membuktikan adanya keterlibatan langsung pemberi jasa, serta adanya bukti pembayaran jasa
sesuai dengan nilai kontrak yang telah disepakati dengan nilai wajar.
b. Memastikan Manfaat Ekonomi : Pemberian jasa tersebut harus memberikan manfaat ekonomi
bagi Wajib Pajak sebagai pengguna jasa.
Memastikan adanya manfaat ekonomi yang diterima oleh Wajib Pajak dapat dilakukan dengan
cara membuktikan bahwa adanya kebutuhan yang sangat diperlukan oleh entitas penerima jasa
terkait jasa tersebut untuk mendapatkan manfaat di masa yang akan mendatang. Selain itu,
pemberi jasa juga harus memiliki kualifikasi untuk dapat menyediakan jasa tersebut yang
didukung oleh dokumentasi atau pembuktian bahwa kegiatan usaha pemberi jasa tersebut
sejatinya memiliki kualifikasi untuk memberikan jasa kepada pihak afiliasi maupun kepada pihak
independen.
Apabila salah satu pengujian diatas tidak terpenuhi, walaupun pengguna jasa dapat membuktikan bahwa
pemberian jasa tersebut sudah benar-benar dilakukan dengan bukti pembayaran kepada entitas pemberi
jasa maka atas beban jasa tersebut masih dapat dikoreksi oleh fiskus.
Selanjutnya jika pengujian terhadap eksistensi jasa dan manfaat ekonomi jasa dapat dibuktikan, maka
perlu dilakukan pengujian terhadap nilai wajar dari penyerahan jasa tersebut.
Dalam lampiran PER – 22/PJ/2013 juga disebutkan bahwa untuk menentukan nilai kewajaran dari
transaksi Intra-Group Service, Wajib Pajak dapat menggunakan salah satu metode-metode penentuan
penilaian kewajaran nilai pembebanan jasa, antara lain:
a. Metode Perbandingan Harga antara Pihak yang Independen (Comparable Uncontroled Price),
b. Cost-Plus Method,
c. Transactional Profit Method.
Walaupun ketiga metode tersebut dapat digunakan, namun pemilihan metode penentuan harga wajar ini
juga harus sesuai dengan ketentuan yang diatur dalam PER - 32/PJ/2011. Lalu, untuk penyerahan untuk
Intra-Group Service ini berdasarkan pasal 11 ayat (11) PER - 32/PJ/2011 mengatur bahwa kondisi yang
tepat dalam menerapkan metode penentuan harga wajar dalam transaksi Intra-Group Service ialah Cost-
Plus Method. Namun, apabila pemilihan Cost-Plus Method masih mengalami kesulitan maka Wajib Pajak
dapat menggunakan Transactional Profit Method.
Dari penjelan diatas, dapat digambarkan aspek perpajakan yang mungkin timbul bagi Wajib Pajak yang
menerima jasa di Indonesia dari entitas grup usaha selaku pemberi jasa dibawah ini :
Contoh Kasus
XYZ Corp., sebuah perusahaan manufaktur yang berkedudukan di Negara A, memiliki 90% saham di PT
XYZ (manufaktur) yang berkedudukan di Indonesia, dan juga memiliki 80% saham XYZ Ltd. (service
provider) yang berkedudukan di Negara C. Pada Tahun Pajak 2016, PT XYZ melakukan pembayaran atas
jasa teknik (technical service) kepada XYZ Ltd.. Untuk Tahun Pajak 2016, PT XYZ sedang dilakukan
pemeriksaan oleh KPP G.
Laporan Laba Rugi PT XYZ pada Tahun Pajak 2016 adalah sebagai berikut.
Penjualan = USD 100,000.00
Harga Pokok Penjualan = USD 80,000.00
Laba kotor = USD 20,000.00 (20%)
Biaya operasi = USD 18,000.00
Laba (rugi) bersih usaha = USD 2,000.00 (2%)
Catatan: Di dalam biaya operasi terdapat biaya jasa teknik (technical service) sebesar USD 10,000.00.
Berdasarkan bukti/data yang diperoleh dalam pemeriksaan, diketahui bahwa:
a. jasa telah benar-benar diberikan oleh XYZ Ltd. dan memberikan manfaat ekonomi bagi usaha Wajib
Pajak;
b. biaya yang benar-benar dikeluarkan oleh XYZ Ltd. atas jasa tersebut adalah sebesar USD 4,500.00;
c. mark-up wajar pada jasa teknik tersebut diketahui adalah sebesar 9% dari cost yang ada.
Dengan demikian, penghitungan biaya jasa teknik yang wajar dengan menggunakan metode biaya-plus
adalah sebagai berikut.
Biaya jasa teknik wajar =USD 4,500.00 + (9% x USD 4,500.00)
Biaya jasa teknik wajar =USD 4,500.00 + USD 405.00 = USD 4,905.00
Biaya jasa teknik wajar =USD 4,905.00
Biaya jasa teknik PT XYZ =(USD 10,000.00)
Penyesuaian positif =USD 5,095.00